Bagaimana Millenial Mengenal Pinjaman Online

Artikel Pilihan Ketut Andi Setiawan

Berjalan memasuki sebuah wahana baru yang memiliki fasilitas supercepat tampaknya mudah, layaknya ketika kita ingin meluncur di seluncuran air di kolam renang (water slide) yang panjang.

Sama halnya jika kita melangkah ke mana saja. Jika tidak berhati-hati, memperhatikan dan mempersiapkan diri untuk apapun yang berada di depan, bukan pengalaman menguntungkan serta seru yang dapat diambil, tetapi justru menjadi mimpi buruk.

Untuk sebuah investasi dan layanan keuangan jenis baru, salah satunya peer to peer lending (P2P), kita harus mempersiapkan diri juga. Berikut persiapan yang perlu dilakukan untuk menjadi investor di bidang tersebut.
Knowledge is power, and then know the game
Lakukan riset dulu, terutama untuk memahami skema peer to peer lending. P2P adalah financial technology (fintech) alternatif berbentuk skema pembiayaan dari satu pihak ke pihak lain yang saling dihubungkan dengan jaringan internet (online).

Dana dari investor (lender) dapat digunakan untuk bermacam tujuan oleh peminjam (borrower), dari kebutuhan bisnis, kebutuhan pribadi, hingga pinjaman kuliah.

Pahami profil risiko diri sendiri dan pahami juga jika skema P2P lebih berisiko daripada investasi pasar modal.

Hal itu didasari alasan pihak yang dipinjami adalah orang asing yang belum dikenal banyak orang, tidak memiliki rekam jejak panjang (rata-rata baru 2 tahun), dan bermodal kecil (UKM).

Perbedaan dengan investasi pasar keuangan dan pasar modal adalah perusahaan di pasar modal sudah dikenal, bermodal besar, dan memiliki rekam jejak panjang.

Selain itu, dua karakteristik yang paling membedakan pasar modal dan P2P adalah P2P memiliki frekuensi transaksi yang terbata (volatilitas rendah) tetapi likuiditasnya juga rendah (less liquidity).

Ingat juga, bahwa segala high risk= high return. Hampir tidak pernah ada investasi berpenghasilan tinggi tetapi memiliki risiko yang minim. Selain itu, perhatikan juga kewajaran dari sebuah investasi.

“Untuk P2P, biasanya 10%-30% masih wajar. Kadang, 40% juga masih ada dan bisa saja terjadi. Namun, kalau sudah ada yang menawarkan 50%, tentu kita bertanya pada diri sendiri, bisnis apa yang dilakukan borrower sehingga bisa mendapatkan keuntungan sebesar itu,” ujar Tejasari Asad, Direktur Tatadana Consulting.

Choose a reliable platform
Eko Endarto, Perencana Keuangan dari Finansia Consulting, menyarankan calon investor P2P selalu mengecek legalitas platform keuangan tersebut ke pihak yang lebih pajak, dan sarana yang paling lumrah dirujuk adalah situs OJK di mana bisa dicari direktori dari P2P.

“Bukan untuk membatasi pilihan, tetapi lebih bertujuan melindungi calon investor dari kemungkinan fraud (penipuan), dan untuk melindungi bisnis ini sendiri dari potensi kejahatan,” ujar Eko.

Karakteristik platform P2P juga beragam. Beberapa platform P2P ada yang menyediakan layanan informasi borrower yang lebih terbuka bagi calon investornya, sehingga membuat investor merasa lebih mengenal pengguna dananya.

Ada lagi P2P yang membatasi minimal investasi dari mulai Rp 100.000 hingga miliaran. Namun, batas maksimal pendanaan per borrower yang dibolehkan OJK bagi skema P2P adalah Rp 2 miliar.

Ragam P2P di Indonesia juga memiliki dua kelompok utama, yaitu kebutuhan pribadi (cash loan) dan kebutuhan usaha/bisnis.

Risiko dari kebutuhan pribadi (cash loan) dan kebutuhan bisnis tentu berbeda, di mana risiko kebutuhan pribadi tentu lebih besar karena kebutuhannya tidak disampaikan serta biasanya tidak berjaminan apapun.

Beda halnya dengan kebutuhan bisnis, di mana borrower dapat menggunakan surat dan barang apa saja untuk dijadikan jaminan (collateral).

Ada juga platform yang sudah matang dan memiliki jaringan yang baik sehingga dapat menjamin pokok pinjaman dengan menggunakan jasa dari asuransi kredit.

Secara garis besar tentu Anda dapat menerka seberapa risiko yang sudah ada di depan mata. Tugas Anda sekarang adalah menimbang seberapa besar yang dapat Anda pangku.

Ingat juga, potensi keuntungan yang Anda lihat juga mencerminkan risiko kerugian yang berpotensi Anda terima.

Diversify
Baurkan portofolio P2P Anda sehingga risikonya tidak terpusat pada satu platform saja.

Diversifikasi juga seharusnya dilakukan terhadap seluruh dana investasi Anda, sehingga tidak seluruhnya dimasukkan ke satu jenis investasi saja, salah satunya P2P, tetapi juga dialokasikan untuk deposito, reksa dana, obligasi, dan saham jangka panjang.

Reinvest, and use an automation
Dana yang sudah kembali kepada Anda, tentunya beserta keuntungan, sebaiknya segera direinvestasikan kembali agar perputaran dana Anda tidak berhenti.

Manfaatkan fitur notifikasi dalam platform P2P Anda ketika pinjaman yang Anda berikan sudah jatuh tempo, atau gunakan fitur otomatis reinvest, jika ada.

Keep involved
Jangan bermalas-malasan setelah berinvestasi dengan tetap memantau pasar keuangan domestik dan perkembangan industri P2P.

Aktivitas ini akan selalu membuat Anda belajar lebih baik lagi di setiap waktu sehingga tidak tertinggal informasi yang mungkin bisa membuat Anda menyesal jika melewatkannya, apapun itu.

Take it slow
Investasikan dana Anda secara perlahan. Jangan terburu-buru memasukkan seluruh dana investasi Anda ke dalam satu platform.

Investasikan dana Anda secara minimal terutama untuk yang pertama kali masuk ke dalam industri ini, sambil mempelajari mekanisme teknis investasi beserta hukum pasar yang berlaku.

Setelah Anda yakin dengan cara dan prospeknya, baru tingkatkan jumlahnya, secara bertahap juga agar tidak kaget dengan kejutan yang mungkin ada di depan Anda nanti.

Nah, setelah Anda melakukan riset dan persiapan-persiapan tadi, tentu pandangan Anda terhadap P2P semakin mendalam dibandingkan dengan sebelumnya.

Jadi, seperti yang kami sebutkan di awal, tentu ada baiknya jika kita mengenali dan memahami serta memiliki tujuan dari sebuah perjalanan agar tidak menyesal ketika prosesnya sudah lewat, serta agar kita bisa meraih keuntungan dan pengalaman berharga dari sebuah proses investasi.

Ketut Andi Setiawan

KETUT ANDI SETIAWAN

Advertisements

Cara Jitu Mengatur Gaji

6 Cara Jitu Mengatur Gaji

KETUT ANDI SETIAWAN
Akhir bulan adalah saat-saat yang ditunggu bagi semua orang, karena saat itu lah gaji turun. Anda akan tersenyum puas ketika hasil kerja keras Anda selama satu bulan tercetak dalam sebuah struk gaji atau dalam bentuk nominal yang cukup menakjubkan dalam rekening tabungan. Namun, anda jangan terbawa nafsu untuk segera menghabiskan gaji Anda. Kita harus pandai mengatur rencana keungan untuk persipan masa depan kita.

Mungkin ketika kita bekerja Anda pernah ingin membeli sesuatu yang tidak terjangkau sebelumnya, misalnya ponsel baru, kamera dslr, pakaian atau makan-makan di restoran. Sadarilah bahwa keinginan itu adalah semu, mash banyak kebutuhan yang perlu Anda rencanakan. Dan Percayalah, sangat penting bagi anda untuk mengatur gaji untuk rencana masa depan Anda.

KETUT ANDI SETIAWAN

Berikut ini adalah 6 cara jitu mengatur gaji untuk masa depan anda.

1. Prioritas
Ketika gajikan, prioritaskanlah hal-hal yang wajib Anda penuhi terlebih dahulu. Pertama adalah buat daftar tagihan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, misalnya tagihan listrik, internet, makan, bensin ataupun uang trasnport yang anda keluarkan selama sebulan.

Jangan lupa untuk mencatat segala pengeluaran Anda dalam satu bulan. Karena dengan cara ini dapat membantu Anda untuk mengecek kembali pengeluaran-pengeluaran dan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pengeluaran esok harinya. Apabila ternyata pengeluaran Anda melebihi anggaran yang Anda rencanakan, maka pengeluaran berikutnya harus dapat lebih disesuaikan lagi.

2. Menabung
Sudah menjadi kewajiban Anda untuk menabung. Langsung potong 15% untuk dimasukkan ke dalam rekening tabungan Anda, ini adalah cara sederhana supaya Anda dipaksa untuk menyisihkan uang. Jangan pernah memiliki prinsip untuk menabung jika ada uang sisa, Anda harus mengutamakan menabung di atas segalanya. Ketika Anda menerima uang gaji, sebaiknya Anda langsung menyisihkan 15% dari uang gaji tersebut dan masukkan ke dalam rekening tabungan.

3. Investasi
Zaman sekarang, Anda perlu untuk meningkatkan penghasilan Anda dengan berinvestasi. Telah terbukti bahwa investasi dapat meningkatkan kesejahteraan finansial Anda. Saat ini, sudah banyak pilihan instrumen investasi yang dapat disesuaikan dengan keinginan dan kemampuan.

Tersedia berbagai macam instrumen investasi, mulai dari saham, obligasi, reksadana, emas, hingga properti. Untuk mengetahui instrumen investasi apa yang sesuai, maka Anda perlu untuk mengenali profil investasi terlebih dahulu. Namun, Anda juga perlu untuk belajar mengelola dan mengawasinya. Apabila modal Anda terbatas, munkin Anda dapat bermain investasi dalam bentuk emas atau deposito.

4. Dana Cadangan
Apa guna dana cadangan? Dana cadangan berguna untuk memfasilitasi Anda ketika terjadi hal-hal di luar dugaan atau sangat mendesak. Misalnya untuk membeli kado teman yang ulang tahun, iuran teman yang sedang sakit, hingga sesepele membeli ban motor yang udah gak bisa ditambal lagi. Untuk mengantisipasi supaya hal ini tidak memangkas tabungan, kamu bisa kok menganggarkan 10% dari gajimu.

5. Amal
Jika Anda beragama pasti pernah mendengar bahwa semakin banyak Anda memberi, semakin banyak pula yang Anda terima. Begitu pula saat Anda menyisihkan uang Anda untuk beramal. Gunakan presentasi berapa jumlah uang yang dapat Anda sisihkan untuk memberi sesama, misalnya 2,5% untuk gaji Anda sebulan.

Ada juga yang menganggap bahwa dengan beramal Anda telah mengasuransikan kesehatan Anda kepada Tuhan. Karena kesehatan adalah hal yang berharga bagi Anda.

6. Kegiatan sosial
Setelah kelima hal tersebut Anda lakukan, Anda masih tetap boleh kok bersenang-senang entah menonton film di bioskop, karaoke ataupun makan di resto mahal bersama teman-teman. Namun tentu saja Anda harus menetapkan batasannya supaya kondisi finansial Anda tidak besar pasak daripada tiang. Anda dapat mengganggarkan 15% dari uang gaji yang Anda terima untuk budget bersosialisasi selama sebulan.

Kegiatan sosial yang identik dengan senang-senang bisa dijadikan ajang untuk memberikan reward pada diri sendiri dan membuatmu makin semangat bekerja. Namun kegiatan ini juga harus terkontrol sehingga keuanganmu tetap aman.

Hidup Hemat Untuk Masa Depan
Sebanyak apapun uang yang Anda miliki, tidak akan membuat Anda kaya apabila Anda tidak menerapkan prinsip hidup hemat. Kebiasaan ini harus Anda miliki karena jika tidak, maka kecenderungan untuk menjadi konsumtif jadi tidak teratasi. Selain itu, dengan hidup hemat, maka Anda sedang mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Jadi, jika Anda ingin memiliki masa depan yang lebih baik dari kehidupan Anda saat ini, ayo mulai hidup hemat dari sekarang.

 

KETUT ANDI SETIAWAN

Artikel Pilihan Ketut Andi Setiawan

Berikut adalah Artikel Pilihan Ketut Andi Setiawan seputar Fintech.

KETUT ANDI SETIAWAN

Hati-hati Terjerat Rentenir “Online”, Kenali Ciri-cirinya!

Dinamika kehidupan sering tidak bisa diprediksi arah lika likunya. Ada banyak kejadian di mana seseorang menghadapi kondisi yang sangat mendesak sehingga dia membutuhkan dana tunai saat itu juga. Misalnya, ketika tiba-tiba mengalami kecelakaan, musibah kesehatan sampai bencana seperti banjir atau gempa yang membuat rumah porak poranda. Ada pula kondisi kedaruratan lain yang sering dihadapi orang, misalnya, kepepet membayar dana sekolah anak, terdesak biaya modal usaha, dan lain sebagainya. Pada dasarnya, semua kondisi darurat yang melahirkan risiko finansial tersebut bisa dikelola dengan berbagai persiapan. Misalnya, melalui penyiapan dana darurat keluarga. Dana darurat ini sebenarnya bisa Anda sisihkan dari sebagian penghasilan rutin hingga mencapai jumlah yang ideal sesuai proyeksi kebutuhan. Selain melalui persiapan dana darurat, kebutuhan dana tunai dalam waktu mendesak juga bisa diantisipasi melalui keberadaan asuransi, baik asuransi jiwa untuk risiko finansial sehubungan dengan meninggal dunianya si pencari nafkah, asuransi kesehatan untuk risiko keuangan akibat biaya berobat, hingga asuransi kerugian seperti asuransi kebakaran, asuransi kendaraan, asuransi kebanjiran, dan lain sebagainya.

Hanya saja, harus diakui, belum semua orang mau dan mampu menjalankan manajemen pengelolaan risiko keuangan seperti itu. Ada akibat yang tidak sedikit apabila kita kurang optimal mengelola risiko finansial tersebut. Salah satu yang sering menjadi akibat dari pengelolaan risiko finansial yang kurang oke adalah, mudahnya seseorang terjebak utang ketika tengah membutuhkan dana tunai dalam waktu mendesak. Berutang atau meminjam sejumlah uang pada penyedia dana, banyak menjadi solusi instan yang dipilih orang ketika menghadapi sebuah kebutuhan, terutama kebutuhan yang sifatnya mendesak dan tanpa ada kesiapan finansial. Di era internet ini, kanal pinjaman semakin banyak tersedia. Bila dahulu, kita hanya mengenal bank, lembaga pembiayaan (multifinance), koperasi, maka di era internet ini kita mengenal Peer to Peer Lending, fintech lender, fintech aggregator, sampai rentenir online. Perbankan juga banyak yang melengkapi kanal pinjaman ini melalui internet. Singkat kata, mengakses pinjaman zaman sekarang menjadi semakin mudah. Kemudahan memperoleh pinjaman ini bak pisau bermata dua. Satu sisi, kemudahan mengakses pinjaman akan menguntungkan bagi mereka yang memang sangat membutuhkan proses cepat.

Sisi lain, kemudahan ini membuat seseorang bisa lebih mudah terjebak masalah utang apabila dalam prosesnya kurang berhati-hati mencari pinjaman yang baik. Salah satu hal yang perlu kita waspadai adalah, kehadiran rentenir online. Kita semua tahu ada kelompok penyedia pinjaman uang online yang sering disebut sebagai lintah darat atau rentenir. Mereka memiliki ciri umum, yaitu memberikan pinjaman dengan bunga sangat tinggi nyaris tidak masuk akal. Makanya di Indonesia, rentenir diibaratkan sebagai lintah darat yang sifatnya menghisap darah. Nah, seiring kehadiran internet, rentenir bukan hanya ada di pedesaan atau pasar-pasar. Rentenir saat ini juga banyak yang menyodorkan pinjaman bunga tinggi melalui jaringan online. Inilah yang disebut rentenir online. Tanpa kecermatan mencari pinjaman, kita bisa-bisa terjebak rayuan rentenir online. Maka itu, ketahui lebih banyak ciri rentenir online dan cara kerja mereka. Berikut ini ciri-ciri rentenir seperti disarikan oleh HaloMoney.co.id:

1. Bunga pinjaman sangat mahal Ini adalah ciri utama rentenir atau shark loan. Mereka mematok biaya pinjaman atau bunga di luar batas kewajaran. Misalnya, 1 persen per hari bahkan ada yang mematok bunga 1% tiap 12 jam. Mereka berani memasang bunga tinggi karena iming-iming persyaratan mudah juga pencairan dana pinjaman nan cepat. Berapa tingkat bunga yang dibanderol rentenir, berbeda-beda tergantung keinginan si lintah darat. Mereka tidak dibatasi oleh regulator seperti Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan.

2. Syarat mudah dan cair cepat Seperti disinggung di atas, para lintah darat memberi bunga sangat tinggi karena memberi iming-iming kecepatan pencairan dana dan kemudahan persyaratan mendapatkan pinjaman. Bila bank atau penyedia pinjaman pada umumnya menerapkan syarat cukup ketat, mulai dari kejelasan identitas, histori kredit (BI Checking), sampai syarat agunan; maka oleh rentenir, syaratnya dibuat sangat mudah. Cukup memberi fotokopi identitas dan foto diri misalnya. Tanpa syarat BI checking dan syarat kartu kredit.

3. Aturan bunga dibuat sesukanya Ketika si peminjam gagal membayar pinjaman, katakanlah sampai 2 bulan, si lintah darat bisa saja mewajibkan si peminjam membayar bunga hingga tiga kali lipat. Semakin lama menunda pembayaran, si peminjam dipaksa menanggung bunga yang luar biasa besar. Bunga yang terus menerus menjerat ini terus menghisap si peminjam sampai nilai utang jadi membengkak luar biasa besar.

4. Bila kredit macet, mereka menawarkan utang baru Ciri berikutnya adalah, ketika ada pinjaman yang macet, si lintah darat biasanya tak segan menawarkan utang baru untuk menutup utang lama. Si rentenir bisa bekerjasama dengan lintah darat lain untuk “menggarap” si “korban” peminjam ini. Gali lobang tutup lobang pun terjadi tanpa ada keinginan untuk menolong si peminjam supaya masalah utangnya menemukan jalan keluar. Yang terjadi, si peminjam semakin sulit keluar dari jeratan utang.

5. Rentenir tidak segan memakai cara kasar Ketika pembayaran utang mulai terhambat, si lintah darat tak segan berbuat kasar saat menagih pembayaran utang. Rentenir online memakai jasa debt collector agar si peminjam takut sehingga mau tidak mau akan membayar utangnya. Bank juga memakai jasa debt collector untk menangani kasus kredit bermasalah. Namun, bank atau lembaga keuangan resmi dibatasi oleh aturan penagihan yang sudah ditetapkan oleh regulator. Sebaliknya, para rentenir tidak dibatasi oleh aturan apapun karena mereka beroperasi tanpa pengawasan.

(sumber : kontan.com)

Ketut Andi Setiawan : My Profile

Ketut Andi Setiawan : My Profile 

Ketut Andi Setiawan adalah seorang pegiat di bidang Informasi Teknologi (IT) khususnya di bidang Website Programming dan sejak tahun 2013 telah memulai karir di berbagai industri IT. Saat ini Ketut Andi Setiawan sedang aktif di berbagai perusahaan rintisan atau disebut juga startup.

KETUT ANDI SETIAWAN

berikut adalah salah satu artikel yang direkomendasikan.

Ketika Anda ingin merintis startup, butuh semangat kewirausahaan untuk mewujudkannya, sebab akan ada banyak hal yang harus dikerjakan. Perlu disadari juga dari awal, untuk merintis suatu bisnis baru butuh dana investasi yang nilai tidak kecil.

Berapa banyak yang harus Anda investasikan untuk membuat situs? Haruskah Anda beli peralatan? Ruang kantor macam apa yang perlu Anda sewa? Bagaimana Anda harus gaji diri sendiri?

Jika Anda masih ada di titik ini, disarankan untuk tidak berpikir mengambil kredit, melainkan bangun usaha sepenuhnya dari kantung sendiri. Ada lima alasan mengapa startup pada tahap awal harus bootstrapping. Berikut rangkumannya:

1. Model bisnis biasanya berubah pada tahap awal
Alasan pertama adalah karena sangat mungkin saat Anda mengembangkan gagasan dan model bisnis akan berfluktuasi, sementara Anda harus tetap fleksibel dengan hal tersebut. Biasanya rencana yang Anda siapkan matang-matang sebelum benar-benar diimplementasikan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Hal ini disebabkan ada faktor X, Anda pun harus siap dengan kondisi tersebut.

Ketika Anda mendanai startup dari kantung sendiri, Anda akan berpikir dua kali sebelum berkomitmen untuk menghabiskan uang yang begitu berharga.

 

2. Fase yang bisa menyeimbangkan pro kontra menjadi karyawan vs pengusaha
Ada pepatah yang menyebutkan, “Jangan tenggelamkan kapal Anda,”. Pepatah ini maksudnya jangan berhenti dari pekerjaan terlalu cepat. Ada risiko signifikan yang terkait apabila Anda bekerja dari kerja kantoran terlalu cepat, sebab Anda harus bertanggung jawab penuh atas seluruh biaya overhead. Mulai dari peralatan, perawatan, komputer TI, staf. Belum lagi hal-hal lainnya yang sering dianggap remeh, seperti asuransi kesehatan, tunjangan pekerjaan, gaji lembur, dan sebainya.

Jika Anda menyubsidi seluruh pertumbuhan awal startup Anda dengan pinjaman, Anda dapat dengan mudah kehilangan jalur dari bisnis sebenarnya. Maka itu, pastikan bisnis Anda memiliki progres hingga mampu menghidupi diri Anda dan karyawan sebelum meninggalkan pekerjaan yang selama ini sudah menghidupi Anda.

3. Menjadi batu loncatan sebelum memutuskan untuk scale up
Bila bisnis Anda hidup karena disubsidi oleh dana eksternal, Anda mungkin tergoda untuk scale up sebelum berhasil membuktikan model bisnis diterima di pasar. Katakanlah bisnis Anda menyediakan layanan kelas seni untuk pasangan di malam hari. Dengan uang sendiri, Anda bisa menguji model bisnis tersebut dengan menyewa ruangan di kedai kopi selama beberapa kali pertemuan.

Selama waktu tersebut, Anda perhatikan apakah model bisnis ini akan melahirkan pengguna loyal? Jika terbukti ada hasilnya, Anda bisa perlahan-lahan menyewa tempat tersebut untuk beberapa bulang sebelum memutuskan untuk sewa penuh. Langkah ini akan meminimalkan dana Anda terbuang sia-sia.

KETUT ANDI SETIAWAN

4. Ada hubungan emosional ketika menghabiskan tabungan sendiri
Anda memiliki keterikatan emosional dengan uang sendiri. Setiap kuitansi, pengeluaran, belanja perusahaan dan lain-lain harus membuat Anda mengatakan ke diri sendiri, “Apakah saya memerlukan ini?.”

Ada banyak pemilik usaha yang berjuang menjalani bisnisnya dengan strategi bakar uang, ambil kredit untuk kebutuhan yang tidak penting, seperti makan siang bisnis, beriklan, membuat merchandise, dan lainnya. Biaya seperti ini padahal tidak pernah mereka lakukan jika sedang bersama keluarga mereka dari tabungan sendiri.

Untuk itu, Anda perlu mulai membuat anggaran dengan nominal budget yang konservatif jika hal-hal seperti ini terjadi. Dengan demikian Anda bisa melanjutkan bisnis yang bisa membuat arus kas kembali positif.

5. Anda pegang kendali atas uang sendiri
Bila bisnis yang dirintis malah membawa hutang, berarti Anda membawa risiko yang mana harus menyerahkan bunga untuk memuaskan kreditur. Ini sama saja artinya Anda kehilangan kendali.

Ada istilah bisnis yang biasa digunakan untuk perusahaan publik terkait hal ini, disebutnya rasio hutang terhadap modal. Rasio ini dihitung untuk mengukur rasio semua kewajiban perusahaan terhadap semua aset atau ekuitas.

Bila bisnis berada di atas rasio hutang, bisa menjadi tanda bahwa perusahaan Anda sekarat. Kemungkinan startup Anda ini dimulai dengan modal yang sangat kecil. Dalam hal ini, hutang yang Anda keluarkan akan menyebabkan rasio hutang terhadap modal melonjak dengan sangat cepat. Artinya ini risiko besar.

Risiko akan semakin besar ketika pada tahap awal Anda mengajak investor dan menukarnya dengan saham perusahaan. Anda akan kehilangan kendali, bahkan bisa jadi dipaksa keluar dari jabatan oleh investor.

Lima alasan ini secara langsung mendorong Anda untuk tidak meminjam uang sama sekali dari pihak mana pun. Juga jangan mengandalkan investor. Ketika bisnis Anda telah menemukan pasarnya, namun dapat diandalkan berarti Anda ada potensi untuk scale up.

KETUT ANDI SETIAWAN

Demikian tentang Ketut Andi Setiawan.